Setiap kali harga cabai jatuh atau petani membuang tomat ke jalan, jari telunjuk publik dan netizen langsung menuding satu tersangka: Tengkulak.
Mereka digambarkan sebagai lintah darat, mafia berperut buncit yang menghisap darah petani, membeli murah semena-mena, dan menjual mahal ke kota. Narasi ini laku keras karena mudah dicerna. Kita butuh tokoh antagonis dalam cerita sedih petani, dan tengkulak adalah peran pengganti yang sempurna.
Tapi mari kita pakai Logika Bisnis. Hentikan mentalitas korban (victim mentality) dan lihat fakta rantai pasok yang sebenarnya.
Tengkulak (atau lebih tepatnya: Pengepul/Aggregator) bukanlah penjahat. Mereka adalah pahlawan logistik yang bekerja dalam diam. Berikut alasannya:
1. Mitos: “Tengkulak Mempermainkan Harga”
Fakta: Tengkulak Adalah “Price Taker”, Bukan “Price Maker”.
Banyak yang mengira tengkulak bangun tidur lalu asal menentukan harga: “Hari ini aku mau beli cabai 5 ribu ah, biar untung banyak.”
Salah besar. Tengkulak di desa itu posisinya terjepit. Harga jual mereka ditentukan oleh Pasar Induk atau Bandar Besar di kota.
- Jika Pasar Induk Kramat Jati bilang harga cabai terima Rp 20.000, maka tengkulak harus menghitung biaya bensin, susut bobot, risiko busuk di jalan, dan upah kuli angkut.
- Katakanlah biaya operasional itu Rp 5.000/kg. Maka, maksimal mereka bisa beli di petani adalah Rp 13.000 – Rp 14.000 (ambil untung tipis Rp 1.000 – 2.000).
Jadi, harga jatuh bukan karena jahatnya tengkulak, tapi karena mekanisme pasar (Supply & Demand) di hilir yang sedang banjir barang. Tengkulak hanya penyampai kabar buruk dari pasar.
2. Fungsi Konsolidasi: Menyelamatkan Biaya Logistik
Bayangkan Anda petani gurem punya panen 50 kg sawi. Apakah masuk akal Anda sewa mobil bak terbuka, bayar bensin, bayar tol, lalu pergi ke pasar induk di kota yang jaraknya 4 jam hanya untuk jual 50 kg sawi? Biaya transportasinya lebih mahal dari harga sayurnya!
Di sinilah peran tengkulak. Mereka mengumpulkan (mengkonsolidasi) 50 kg sawi dari Anda, 30 kg dari Pak Budi, 100 kg dari Bu Siti, sampai terkumpul 1 truk penuh (2 ton). Dengan volume besar, biaya kirim per kilogram jadi murah (Efisiensi Logistik). Tengkulaklah yang membuat sayuran petani gurem bisa sampai ke kota dengan biaya masuk akal.
3. Fungsi “Banking”: Membeli Risiko Tunai
Ini yang paling sering dilupakan. Pertanian itu bisnis risiko tinggi.
- Risiko Busuk: Tomat yang dibeli tengkulak hari ini, kalau truknya mogok atau macet, besok pagi jadi sampah. Siapa yang rugi? Tengkulak. Petani sudah terima uangnya.
- Risiko Pembayaran: Pasar modern (Supermarket) atau pabrik seringkali bayar tempo (14 hari – 30 hari). Petani butuh uang cash hari ini untuk makan dan beli pupuk besok.
- Tengkulak mengambil risiko itu. Mereka talangan dulu bayar cash ke petani, lalu mereka yang pusing menagih ke pasar/pabrik. Mereka berfungsi sebagai penyangga arus kas (Cashflow Buffer) bagi petani.
4. Ketiadaan Infrastruktur Pemerintah
Kenapa petani bergantung pada tengkulak? Karena pemerintah gagal menyediakan alternatif. Tidak ada gudang pendingin (Cold Storage) umum di desa. Tidak ada sistem logistik murah. Tidak ada jaminan pasar (off-taker) dari BUMN yang konsisten.
Tengkulak hadir mengisi kekosongan sistem itu. Mereka membangun jaringan, menyewa truk, dan menjaga relasi dagang bertahun-tahun.
Kesimpulan: Hormati Fungsinya
Artikel ini tidak bermaksud membenarkan oknum tengkulak yang curang (memainkan timbangan atau ijon jahat). Oknum jahat ada di semua profesi.
Namun, menyalahkan profesi tengkulak secara general sebagai penyebab masalah pertanian adalah tanda kemalasan berpikir. Selama pemerintah belum mampu menyediakan gudang logistik di tiap desa dan armada truk gratis, Tengkulak adalah mitra strategis yang paling efisien.
Mereka bukan mafia. Mereka adalah manajer logistik tak berseragam yang memastikan sayuran dari pelosok gunung bisa sampai ke piring Anda dalam waktu kurang dari 24 jam.

